Buku The Man Who Said Yes Ajak Pembaca Berdamai dengan Ketidakpastian Hidup

Buku The Man Who Said Yes karya Jiu Kian mengajak pembaca berdamai dengan ketidakpastian hidup melalui kisah perjalanan dan filosofi keberanian berkata “YES”.

Di tengah dunia yang semakin dipenuhi ketidakpastian, banyak orang dihadapkan pada dilema besar: melangkah maju dengan risiko atau berhenti karena rasa takut. Ketidakstabilan ekonomi global, perubahan sosial yang cepat, hingga berbagai peristiwa tak terduga membuat masa depan kerap terasa samar. Kondisi tersebut tidak jarang membuat individu ragu untuk bermimpi, bahkan enggan mengambil keputusan penting dalam hidup.

Gagasan tentang keberanian menghadapi ketidakpastian inilah yang diangkat dalam buku terbaru berjudul The Man Who Said Yes, karya Jiu Kian. Buku ini resmi diluncurkan sebagai refleksi perjalanan hidup sekaligus panduan inspiratif bagi pembaca yang tengah mencari arah di tengah perubahan zaman.

Yes Bukan Sekadar Simbol Optimisme

Jiu Kian dikenal sebagai entrepreneur dan pemimpin jaringan bisnis nasional yang berhasil membangun ekosistem usaha dengan total omzet mencapai Rp120 miliar. Melalui bukunya, ia mengajak pembaca memahami bahwa kata “YES” bukan sekadar simbol optimisme, melainkan sebuah sikap hidup yang menentukan cara seseorang merespons ketidakpastian.

“Ketidakpastian adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan. Namun, yang membedakan hasil hidup setiap orang adalah bagaimana ia merespons kondisi tersebut,” ujar Jiu Kian, Selasa (27/1/2026). Menurutnya, keberanian untuk membuka diri terhadap peluang, meski disertai risiko, kerap menjadi titik awal dari perubahan besar. “Bagi saya, kata YES dapat menjadi tiket masuk menuju level kehidupan berikutnya,” tambahnya.

Terbuka Kisahkan Perjalanan Hidup

Dalam buku ini, Jiu Kian secara terbuka mengisahkan perjalanan hidupnya yang jauh dari kata mudah. Ia tumbuh dalam kondisi sederhana dan telah terbiasa bekerja sejak duduk di bangku sekolah dasar dengan berjualan es mambo. Setelah itu, ia sempat bekerja sebagai buruh pabrik batu bata sebelum akhirnya merantau ke Pulau Jawa dengan berbagai keterbatasan.

Beragam pekerjaan pernah ia jalani demi bertahan hidup, mulai dari bekerja di toko kelontong, menjadi kuli panggul di pasar, hingga menjaga toko di pusat perbelanjaan. Ia mengakui, rasa malu, takut gagal, dan kelelahan mental kerap datang silih berganti. Namun, di setiap fase tersebut, terdapat satu prinsip yang selalu ia pegang, yakni keberanian untuk mengatakan YES terhadap setiap kesempatan yang datang, sekecil apa pun peluangnya.

Ketika Penolakan Demi Penolakan Dihadapi

Salah satu pengalaman yang paling ia kenang adalah saat pertama kali menawarkan produk asuransi secara langsung dari rumah ke rumah dengan berjalan kaki. Penolakan demi penolakan ia hadapi. “Kalau saat itu saya memilih berkata tidak karena malu atau takut ditolak, mungkin cerita hidup saya akan berhenti di situ,” ungkapnya.

Tidak hanya memuat kisah personal, The Man Who Said Yes juga disusun sebagai panduan reflektif yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Jiu Kian merangkum pembelajarannya dalam sebuah kerangka berpikir yang ia sebut sebagai filosofi 368. Filosofi ini mencakup tiga fase kehidupan, enam prinsip abadi, dan delapan kunci kesuksesan.

Gambaran Tiga Fase Kehidupan

Tiga fase kehidupan menggambarkan perjalanan manusia dari masa ditempa oleh keadaan, bertumbuh melalui pembelajaran, hingga mencapai tahap berbagi kepada sesama. Enam prinsip abadi berfungsi sebagai nilai penuntun agar arah hidup tetap terjaga, sementara delapan kunci kesuksesan membahas sikap dan kebiasaan yang perlu dipelihara agar tujuan hidup dapat dicapai secara berkelanjutan.

Melalui pendekatan tersebut, buku ini tidak hanya bersifat inspiratif, tetapi juga aplikatif. Pembaca diajak melakukan refleksi personal, memahami posisi hidupnya saat ini, serta membangun keberanian untuk melangkah ke fase berikutnya. “Buku ini bukan hanya tentang kisah saya, melainkan undangan bagi para pembaca untuk mulai berkata YES dan menuliskan versi The Man Who Said Yes mereka sendiri,” jelas Jiu Kian.

Kini Memimpin Jaringan Bisnis di Indonesia

Saat ini, Jiu Kian memimpin jaringan bisnis yang tersebar di 16 kota di Indonesia dengan 11 kantor agensi aktif. Jaringan tersebut menjadi tempat bertumbuh bagi lebih dari 2.500 mitra dan karyawan yang ia sebut sebagai pejuang kehidupan. Baginya, kesuksesan sejati tidak hanya diukur dari capaian bisnis, tetapi juga dari dampak sosial yang dapat dihadirkan bagi banyak orang.

Buku The Man Who Said Yes kini tersedia di berbagai toko buku dan platform marketplace di Indonesia. Buku ini ditujukan bagi profesional muda, pelaku usaha, mahasiswa, serta siapa pun yang tengah mencari keberanian untuk melangkah di tengah ketidakpastian. Dengan gaya penulisan yang lugas dan reflektif, buku ini diharapkan menjadi teman perjalanan bagi pembaca dalam menghadapi dinamika kehidupan, sekaligus pengingat bahwa satu kata sederhana dapat menjadi awal dari perubahan besar. (SelfPublish-01)

Pilihan Redaksi

Endang Suherman
Endang Suhermanhttps://selfpublishing.biz.id
Endang Suherman adalah penulis dan penerbit independen yang fokus pada karya-karya nonfiksi, riset politik, sejarah, dan media digital. Melalui selfpublishing.biz.id, ia berbagi pengalaman serta pengetahuan mengenai dunia kepenulisan dan penerbitan mandiri, dengan tujuan membantu lebih banyak penulis mewujudkan karyanya menjadi buku yang terbit dan dibaca publik.

Artikel Lainnya